|
|
|
|
Rabu, Juni 12, 2013
The Dictionary of Insult and Sarcasm
Faggot, Fart smeller, Dickhead, Buttpirate, Douchnoozle, Jackass, Shut your cockholster!,,Wanker, Dumbshit, Fudge packer, Shitbag, Pissant, Shithead, Son of a bitch, Twat, Horsefucker, Ho bag, Clitsquiggle, Puff, Dickhead, Douchebag, Asshat, Asshole, Cocksucker, Dipshit, Pussy, Motherfucker, Cum dumpster, Gaywad, Skank, Bastard, Niggerfaggot, Ball licker, Thunder cunt, Prick, Slut, Whore, Turd sandwich, Jive turkey, Go fuck yourself!, Dumbass, Fucktard.
-If your vagina had a password, it would be "password"
-Girls who say, "a lot of
guys are after me", should keep in mind that low prices always attract
many customers.
-No i'm not mean, i just tend
not to give a fuck.
-Before you “assume” try this
crazy method called “asking”, you slut...
-Your opinion is irrelevant
because you're a cunt
-I know you tried you had a
cute laugh, but instead you sound like a retarded seal, clapping hands like that.
-You're not fat, you're
just.. easier to see.
-Silly teenagers, babys are
for adults. Why you have one?!
-I'm sorry I
offended you when I called you a bitch, I honestly thought you knew it.
- Girls who pretend to act stupid because they think
it's cute need to be slapped in the face with a brick.
-And by "whatever"
I mean fuck you!
-Fuck excuses, learn to admit
when you fuck up.
-Life is better when you shut
your fucking mouth up.
-Oh, I didn't tell you? Must
have been none of your fucking business.
-"You look tired"
is just a polite way for someone to tell you that you look like shit.
-I'm sorry, what language are
you speaking? It sounds like bullshit.
-No I wasn't ignoring you at
all. I had to go walk my unicorn, really.
-You’re not fat. Your stomach
is 3D.
-Oh, you’re good at math?
Well, only in math problems you can buy 60 watermelons, and nobody asks what
the hell is wrong with you.
-You think your life is hard?
Just think, there’s a turtle out there that has been flipped on its back and
can't get up. Fuck your problems.
-11 year old kids making Facebook,
Twitter, and Path accounts. The fuck you gonna update about?! "Just
leaving day care, about to go play kitten outside."
-Oh your phone is protected?
What the fuck do you have? Nuclear launch codes?
-I don't hate you, it's just,
if you were on fire... I would roast a corn. You knew I like ‘jagung bakar’,
right?
-I'm not saying I hate you.
I'm just saying that if you got hit by a bus, I would probably be the one
driving it.
-I dont hate you. I just hope
your next period happens in a shark tank.
-I don’t hate you. I just
look at you sometimes and think, "That's the sperm that won?"
-Money doesn't buy happiness?
Well it buys a jet ski. Have you ever seen a sad person on a jet ski? It's
impossible to be sad on a jet ski. Open your fucking mind before your mouth.
-How to lose weight: Turn
your head to the left, and then turn it to the right. Repeat this exercise
whenever offered food, you fat piece of shit.
-Always follow your heart.
Your brain is stupid as fuck.
-Running away doesnt help you
with your problems, unless you're fat. Then yeah, run.
-I'm sick of bitches,
bitching about other bitches being bitches.
-To my ex-math teacher, I'm
still waiting for the day that I will actually use x + y +8 [(x + 2y ? = a-z] +
2x + (- 2z = 2. 4) + 10y -5Z = k= 9 in real life.
-Shit happens. I mean, look
at you.
-When someone tells you to,
"expect the unexpected", slap them in the face and ask them if they
expected it.
-Sorry, I can't hangout. My
uncle's cousin's sister in law's best friend's insurance agent's roommate's pet
goldfish drowned. It was tragic.
-The woman who invented the
phrase, “All guys are the same.” Was a black woman who lost her boyfriend in a
crowd in Zimbabwe
-I heard she was born naked,
that slut.
-Aw, virgins? That’s just a tale, like unicorn and mermaid.
That's all. Are they bad? Really? Like i give a fuck...
Label: Shout Out
|
|
|
Sabtu, Juni 01, 2013
Holiday, here i come
Barusan iseng-iseng buka blog temen lama, salah satu postingnya ada yang tentang trip dia ke Kalimantan. Wah, gue langsung excited gitu bacanya. Kebetulan tahun lalu gue pernah ke sana, sendokiran, tapi nggak jadi bikin postingan soal itu. Pulang dari Kalimantan gue nyoba bikin Travelogue pake bahasa inggris. Alhasil, baru 2 paragraf aja langsung buntu, macet. Lol.
Liburan semester ini sepertinya harus diisi dengan Semester Pendek. Tapi tadi sempet ada wacana dari Tommy dan Rhino, dua junior gue di kampus untuk naik gunung ke Semeru. Ah, entahlah. Jadinya seperti terjebak antara perasaan semangat yang membuncah, dan rasa malas yang menggelayut di otak. Semangat, karena sudah nyaris 2 tahun gue absen naik gunung. Dan malas, karena membayangkan fisik yang nggak lagi bugar seperti dulu. Sebenarnya gue cuma pengen ngetrip doang, gak harus ke gunung juga nggak jadi soal. Cuma ya gitu, tawaran untuk mendaki gunung itu selalu menggiurkan. Seandainya gue penderita schizophrenia, pasti sekarang gue udah ketolong sama suara-suara yang bakal meyakinkan gue untuk pergi ke mana, hehehe!
Label: Daily
|
|
|
Selasa, Mei 28, 2013
When I Was Kid...
-I'd put my arms insert my T-shirt, and told people i lost my arms.
-Would restart video game whenever I knew I was going to lose.
-Had that one pen with 3 colors (black, red, and blue), and tried to push all the button at once.
-The hardest decision in my life was choosing which Nintendo game to play.
-Waited behind the door to scare someone, then leaving because they're taking too long to come out.
-Faked being asleep, so I could be carried to bed.
-Used to think that the moon followed my Dad's Vespa.
-Watching two drops of rain roll down window and pretending it was a race.
-Went on my Dad's computer just to use 'Paint'. Drawing my self became a 'Goku' on Dragon Ball.
-And thought the only way to shut down a PC is by turning off the monitor.
-Buyed a 'Tamagochi' just like the other kids on school.
-Playing kittes with kids on block.
-Used to sing in the bathroom.
-Swallowed a fruit seed, I was scare to death that a tree was going to grow in my stomach.
-When sunday comes, sitting in front of the TV from morning 'till afternoon just to watch cartoons.
-Prayed to God, hoping the Monday never come.
Remember when we were kids and couldn't wait to grow up? What the hell were we thinking?
Label: Daydream
|
|
|
Jumat, Mei 17, 2013
Mermonte - 1. We're On The Same Way - 2. Monte
|
|
|
Foals - Late Night (Life being created, life being born, life ending)
|
|
|
Winter Gloves - 1.Factories - 2. Plastic Sides
|
|
|
The Lumineers - 1. Ho Hey - 2. Big Parade
|
|
|
Tenniscoats - Baibaba Bimba
|
|
|
Priscilla Ahn - Are We Different
|
|
|
Walk off the Earth - Summer Vibe
|
|
|
Ball Park - It's Nice To Be Alive (Accoustic)
|
|
|
Rabu, Mei 15, 2013
Secangkir Hujan (versi cerpen)
Dari dulu hingga sekarang problem Adit tidak pernah berubah, pernyataan bahwa "Aku mencintai Karina, dan aku ingin dia mencintaiku" telah menjadi duri yang mengakar, yang tanpa dia sadari justru membuat hidupnya berantakan. Selama ini Adit tidak menyadari bahwa rasa "ingin dicintai" itu adalah cinta yang egois. Kenapa begitu? Karena cinta yang seperti itu sejatinya hanya mementingkan diri sendiri, tanpa merefleksikan arti dari cinta itu sendiri. Ingin dicintai itu bisa membuat orang jadi lupa diri. Orang jadi menggunakan segala cara supaya orang yang dicintainya terpikat, pakai teknik ini itu, berusaha tampil lebih menarik, seksi, lebih romantis, dan hal-hal lainnya.
Dicintai itu maknanya sempit, terbatas. Kalau udah dapat lantas bagaimana? Baru merasa puas? Kalau nggak kunjung dapat juga? Frustasi? Begitu? Cinta itu sederhana. Cinta itu memberi, fokusnya pada orang lain, bukan pada diri sendiri. Kalau ingin menggunakan bahasa yang lebih norak lagi, "cinta itu tulus".
Nyaris empat tahun Adit memendam rasa terhadap Karina, seorang temannya di kampus. Namun berbanding terbalik dengan perasaannya, Adit justru tidak pernah mengambil tindakan apapun untuk mendekati Karina. Adit merasa takut bahwa tindakan apapun yang diambilnya akan membawa dampak buruk terhadap pertemanannya dengan Karina. Maka Adit merasa cukup puas dengan status hubungannya dengan Karina: teman. Sebuah status yang berada di zona aman, memberinya ruang gerak yang cukup leluasa untuk berinteraksi dengan Karina. Dapat memandangnya setiap hari memberikan kepuasan yang lebih dari cukup bagi Adit, walaupun tentu saja hatinya selalu berharap lebih. Dan terkadang interaksi itu tidak hanya berhenti di titik 'memandang', karena lingkungan sosial membuat individunya terlibat dalam percakapan dengan individu lainnya di dalam populasi tersebut. Begitulah, terkadang Adit terlibat dalam percakapan dengan Karina. Beberapa percakapan hanya berupa sapaan antar-teman, basa-basi saling tanya kabar, dan beberapa lainnya mereka terlibat dalam percakapan yang mendalam.
Adit sering merasa blunder ketika harus berhadapan dengan Karina. Entahlah, sepertinya ada hormon tertentu di tubuhnya yang seolah mendidih setiap kali harus berinteraksi dengan wanita tersebut. Beberapa dari kita menyebutnya 'cinta', namun Adit lebih senang menyebutnya 'canggung'. Lama-kelamaan dia sadar, mau sampai kapan dia melakukan ini? Adit tidak bisa terus-menerus menuruti keinginan malaikat kecil yang ada di sisi kiri otaknya. Sekali waktu, malaikat kecil tersebut menasehatinya,
"You have only two choice left: you can keep chasing her like this, or stop make a fool of yourself."
Si malaikat kecil terus menasehati Adit agar tidak bertindak gegabah. Namun Adit tersadar, bahwa sudah tiga tahun lebih dia merasakan hal ini, dan tidak ada satu usahapun yang dilakukannya. Memahami ke-keras kepala-an Adit, setan kecil yang ada di sisi kanan otaknya akhirnya berkata,
"You can solve your feeling, if you can state it..."
Adit menatap langit, seolah ingin mendeklarasikan hasratnya yang besar pada dunia. Dia telah memutuskan untuk tidak memilih yang manapun dari kedua pilihan yang diberikan oleh si malaikat kecil, dia memilih untuk menyatakan perasaannya kepada Karina.
Sudah lebih dari tiga tahun Adit mencintai Karina. Dan selama masa itu dia telah menjalin hubungan dengan enam orang wanita. Tiga di antaranya adalah sebagai pacar, officially, dan tiga lainnya hanya untuk seks, unofficially. Pembagian yang terlihat pas, namun itu hanyalah faktor kebetulan, bukan matematika. Selama ini Adit menjalin hubungan-hubungan tersebut agar dapat melupakan perasaannya kepada Karina. Beberapa nyaris berhasil, dan beberapa justru tidak bekerja sama sekali. Perasaannya adalah mutlak. Yang menjadi masalah adalah, apakah Adit ingin mencintai atau dicintai? Selama ini dia merasa bahwa mencintai Karina adalah cukup. Namun sekarang Adit ingin dicintai. Dia harus menyatakan perasaannya, terlepas dari konsekuensi apapun atas dampak yang akan dihasilkan dari tindakannya tersebut.
"Thanks to you pal, berkat nasehat lo gue berani lewat di jalan ini. Jalan yang nekat. Berkat lo, gue nggak nyalahin keadaan terus, tapi gue berani action! Ngejar apa yang gue suka dan berusaha ngedapetinnya. Kuncinya emang dukungan. Kalo ada 5 yang menentang keinginan kita, tapi ada satu orang yang mendukung, itu aja udah modal besar. Dan, gue punya lo..." kata Adit kepada seorang teman, seusai menyatakan perasaannya kepada Karina.
Pada suatu hari Adit mendatangi Karina di kosannya, dan lalu mengatakan apa yang selama ini dipendamnya dalam-dalam. Apa yang tadinya berupa sebuah niat untuk memiliki, tiba-tiba berubah dalam sekejap. Entah mengapa, Adit merasa 'plong', seolah ada beban berat yang terlepas dari pundaknya sesaat setelah menyatakan perasaannya tersebut. Malaikat kecil menyadari apa yang Adit rasakan, dan berkata,
"Apa yang kamu rasakan itu bukan keinginan untuk memiliki, pernyataanmu kepada Karina tadi hanyalah sebuah simbol. Ini simbol dari keikhlasanmu menjalankan peran sebagai orang yang mencintainya. Ini bukan sekedar perjalanan hati yang melihat gelap dan terang. Bukan sekedar perjalanan menembus ratusan hari. Tapi, ini perjalanan sebuah rasa. Yang kamu cari itu bukan status, tapi makna. Ya, makna..."
Adit tergelak. Merasa heran mendengar si malaikat kecil tiba-tiba dapat berbicara bijak. Namun, sekaligus merasa senang karena si malaikat kecil mampu menguraikan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Setan kecilpun ikut tertawa, dan dengan riang dia menambahkan,
"Isi kepala setiap individu itu berbeda, Dit, dan berbeda pula apa yang dikejar. Cuma kita sendiri yang bisa memaknai perjalanan hidup serta isi hati kita. Kelak, ketika hidup membawamu jauh dari makna, ingatlah pesan malaikat kecil tadi. Semoga itu bisa menjadi mantra untuk selalu mengembalikan langkahmu seirama dengan hati."
Adit merekam dengan baik perkataan malaikat dan setan kecil tadi. Tak pernah dia merasakan pikirannya seringan sore itu. Diingatnya lagi masa tiga tahun lebih yang telah memberinya kepercayaan untuk belajar mencintai. Tiga tahun lebih yang telah memberi ruang kesempatan baginya untuk mengecap rasa. Hari-hari yang telah membuat Adit mampu berjalan terus. Hari itu, perasaan cintanya lunas.
---------
Titik hujan menjatuhkan diri dengan malu-malu sore itu. Bau yang menggugah selera menyeruak ketika Adit memasuki sebuah kedai makan. Seorang pelayan tersenyum mempersilahkan dirinya duduk. Di meja ujung itu Adit menatap keluar jendela, sore yang sejuk untuk sebuah kota kecil seperti ini. Di luar banyak orang lalu-lalang. Aneka poster tertempel di dinding depan. Segerombol orang keluar dari pintu di ujung jalan. Para pelayan kedai makan bersenda gurau sambil sesekali terdengar suara gelas beradu dengan bahan stainless.
Secangkir aroma coffee latte menyapanya. Adit memainkan buih-buih dalam cangkir keramik itu, diaduk dan dicampur gula secukupnya. Diseruputnya perlahan. Diaduk lagi, buih itu ia mainkan dan diangkat lagi dengan sendok lalu dijatuhkannya lagi entah untuk keberapa kalinya. Tak lama, dia menyuapkan buih itu ke mulutnya. Hangat... Ia tersenyum sendiri, mungkin rasanya seperti makan awan. Buih itu lumer di dalam mulutnya, kemudian menyatu dengan salivanya dan terasa hangat memasuki kerongkongan. Sebuah pesan singkat masuk di HP-nya.
"Holaaa... Lagi apa?"
Dari Karina. Adit tersenyum. Sudah beberapa hari berlalu sejak ia menyatakan perasaannya kepada Karina. Tidak ada yang berubah, Karina masih bersama pacarnya, dan Adit masih mencintai Karina. Kesederhanaan perempuan itu telah merenggut hatinya. Ketika mata sudah terlalu sering melihat kemeriahan bertabur gemerlap kepalsuan, kesederhanaan seperti menjelma menjadi barang langka, sesuatu yang tersimpan dalam diri perempuan yang dicintainya tersebut. Ini adalah perjalanan hati yang tak terucap, tapi berharga. Bertemu Karina... itu sesuatu yang mahal baginya. Sementara, ia hanya memiliki perasaan yang sederhana, karena memang itu lah yang terbaik yang ia miliki.
Adit membayar di kasir lalu berjalan keluar. Ia menarik resleting jaketnya ke atas, lebih rapat lagi menutupi lehernya, dan mulai berjalan menembus hujan yang semakin deras.
Mei 2013
Label: Tulis
|
|
|
Senin, Mei 13, 2013
Coffee Latte
Kudongakkan
kepalaku dari layar laptop, perlahan-lahan kuurut kedua pelipisku, mencoba
menghilangkan penat sejenak. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, kafe sudah
mulai ramai, satu hal yang baru kusadari sejak lebih dari satu jam berkutat
dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Arloji di tangan menunjukkan pukul sebelas
malam. Segera kupanggil waitress
untuk memesan secangkir kopi lagi. Tubruk.
“Makannya
sekalian, mas?” Oh, nggak. Kopi aja.
“Baik. Ditunggu
ya, mas.”
Kurebahkan
punggungku di senderan kursi, yang langsung berdenyit menahan bobot tubuhku
yang tidak seberapa. Sekali lagi kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kafe.
Tiga orang mahasiswa India di sudut yang jauh di bagian depan kafe. Dua orang
remaja SMA yang sepertinya tengah berkencan di sofa sebelah kananku. Kerumunan wanita−tante-tante lebih
tepatnya−yang asik
ngerumpi sambil tertawa-tawa ringan di depanku. Dan yang terakhir,-
“Silahkan kopinya,” Ya, makasih.
-seorang
mahasiswa di sebelah kiriku. Hampir luput dari perhatianku, saking tenangnya
dia menekuri layar laptopnya. Tugas? Atau hanya sekedar numpang online? Jemarinya sibuk menari-nari di
atas mouse. Cantik. Kata-kata itulah
yang pertama mampir di otakku. Mengenakan kaus berlengan panjang warna toska,
dan celana jeans pendek sepaha−digunting
sendiri, pikirku−,
dan sepasang sandal mahal (aku tahu itu dari merknya). Ah, pasti orang kaya.
Rambutnya yang panjang tergerai bebas di punggungnya, dan wajah yang mungil
itu…tiba-tiba menoleh ke arahku. Kontan aku kaget. Campuran antara terkejut dan
malu. Segera kualihkan pandanganku kembali ke laptop. Kusibukkan diri dengan
menekuni tugasku kembali. Tentu saja itu percuma, karena pikiranku terbagi
antara malu, dan berusaha menghilangkan sisa-sisa bayangan raut wajah gadis itu
dari benakku.
Kuseruput kopi
baru di depanku. Panas. Kukecap-kecapkan lidah dan bibirku yang terbakar.
“Maaf mas, … (suaranya
lirih, tidak terdengar jelas olehku).”
Gadis itu
menyapaku. Eh? Benarkah itu? Kutengokkan kepalaku segera.
“Maaf, itu
colokannya boleh gantian? Laptop gue udah low.”
Oh, ternyata
itu. Rugi sudah dag-dig-dug duluan. Boleh,
silahkan. Punya saya sudah penuh.
Segera kucabut chrager laptopku dari stop kontak yang
cuma satu-satunya di kafe kecil itu. Gadis itu tersenyum manis. Kutekuni
kembali paperku. Analisis kasus kedua:
Pada pola konsentris seperti daerah pegunungan, desa menjadi titik sentral.
Sedangkan pada pola menyebar seperti daerah daratan,
“Tubruk ya?”
Dia mengajakku
ngobrol.
Kupasang
senyumku semanis yang kubisa. Walaupun seingatku aku selalu gagal dalam
tersenyum. Setiap kali berfoto bersama pun, teman-teman selalu menegurku karena
ekspresiku yang datar.
Iya.
“Kenapa tubruk?
Kan banyak pilihan lainnya.”
Ampasnya enak.
Aih, jawaban
macam apa itu? Dia tertawa pelan. Manis. Renyah kedengarannya.
“Di sini Coffe Lattenya terkenal enak loh.”
Wah, saya belum pernah coba tuh. Sering ke
sini ya?
“Lumayan.
Apalagi kalau sedang butuh Muse buat
nulis.”
Kuanggukkan
kepalaku, rupanya dia seorang penulis.
Saya sedang sibuk tugas nih.
Lagi-lagi
pernyataan yang bodoh. Siapa yang tanya?
“Oh, semangat
deh ya.” Sahutnya sambil mengalihkan perhatian kembali ke laptopnya.
Kenapa mulut ini
tidak bisa diajak kompromi di saat-saat seperti ini? Ah, sudahlah. Lebih baik
segera kuselesaikan tugasku, sebelum rasa malas datang mendera. Sampai mana
tadi? Ughh, pikiranku tidak bisa fokus. Terdengar derai tawa bersahut-sahutan
dari meja India. Entah apa yang mereka obrolkan. Ngomong-ngomong, kafe di sana
seperti apa ya? Dengar-dengar populasi penduduknya lebih miskin dibanding rata-rata
penduduk Indonesia. Paling-paling kafenya hanya seperti rumah makan biasa. Ah,
tidak mungkin juga. Berpenduduk miskin bukan berarti tidak ada orang kaya-nya,
kan. Sama saja seperti di sini. Orang-orangnya miskin, tapi sekalinya ada yang
kaya pasti kaya sekali. Tajir banget, istilahnya. Orang-orang jetset, para
sosialita, dll,… yang seharusnya bukan menjadi perhatian utamaku malam ini.
Hush-hush, ayo fokus lagi ke tugas! Kuseruput lagi kopiku. Sudah mulai
mendingin sekarang. Segerombolan mahasiswa memasuki kafe, menempati meja di
sudut belakang.
“Jurusan apa?”
Oh, dia kembali
mengajakku mengobrol rupanya.
Pertanian. Situ?
“Gue komunikasi.
Hmm, pasti berat ya ngambil pertanian…”
Ah, nggak juga. Itu sih cuma…
Hpnya berdering.
Dipandanginya sejenak layar hp tersebut, sebelum akhirnya diangkat. Sayup-sayup
terdengar lawan bicaranya di seberang sana berbicara. Yang ditanggapi dengan
raut muka lelah,
“Kok aku capek
ya…”
Wah, senewen
nih. Pasti telpon dari pacarnya. Entah siapapun lelaki beruntung itu, yang
jelas dia tengah membuat kesal si penulis cantik. Derai tawa kembali terdengar
dari meja India. Boleh ikutan nimbrung nggak? Saya pusing nih mengerjakan tugas
dari kampus.
“Just, stop calling me. Oke?”
Wah, dia marah.
Telpon pun diputus. Kucoba berbasa-basi,
Pacarnya ya?
Yang ditanya
hanya menengok sekilas dan menganggukkan kepalanya. Wah, pancingan yang salah.
Lebih baik aku diam. Kualihkan pandanganku kembali ke laptop. Salah satu dari
gerombolah mahasiswa yang baru datang tadi beranjak dari mejanya menuju ke
arahku. Bukan seseorang yang kukenal.
“Boleh pinjam
lighter?” Silahkan.
Suara korek
dinyalakan, disusul hembusan nafas kuat-kuat. Pertanda rokok sudah menyala.
“Makasih” Anytime.
Dia kembali ke
sudutnya. Sementara, kuperhatikan gadis di sebelahku tengah memandangi
laptopnya sambil terdiam. Tidak ada gestur sedikitpun. Kulirik kembali arloji
di tangan, sudah lewat tengah malam. Baru kusadari ternyata badanku letih
sekali. Sudah waktunya pulang. Biarlah tugas paper ini kukerjakan kembali besok
pagi-pagi sekali. Toh, jadwal kuliah besok juga siang, sehabis Solat Jum’at.
Perhatianku kembali teralihkan ke sosok di meja sebelah kiriku. Ah, tubuhku
jadi enggan untuk beranjak. Sepuluh menit lagi saja lah. Toh, di sini ada
layanan Wi-Fi gratis. Sebaiknya aku online dulu sejenak, menengok akun-akunku
di dunia maya yang sudah lama tidak kukunjungi.
Terdengar bunyi
gemerisik. Tampaknya, si penulis cantik sudah hendak pulang. Kulihat dia tengah
memberesi laptopnya, lalu menyeruput sisa kopi di gelas kacanya. Coffe Latte, mungkin. Tiba-tiba dia
menengok ke arahku. Aku terkesiap, kaget dengan manuver itu. Ah, kena dua kali,
pikirku.
“Besok ke sini
lagi?”
Apakah itu
sebuah ajakan? Kuanggukkan kepalaku.
Dia tersenyum.
Manis. Kemudian melangkahkan kakinya keluar kafe, setelah menyelesaikan
pembayarannya di kasir. Kulihat dia memasuki sebuah City Car putih yang terparkir di luar, yang lalu bergabung bersama
deretan kendaraan-kendaraan lainnya di jalan raya yang masih saja ramai
meskipun sudah lewat tengah malam begini. Mobil ya, pikirku.
Segera
kuberesi laptopku. Sudah waktunya beranjak dari sini. Kasur yang hangat tengah
menanti di kamar kosku yang sempit. Kuambil sepeda tuaku di sudut parkiran
kafe, lalu kukayuh pulang. Terdengar derit rantainya yang ringkih seolah
berusaha menyaingi suara mesin-mesin kendaraan lainnya di sekitarku.
Sepertinya,
besok aku tidak akan ngopi di sini.
Juni 2010
Label: Tulis
|
|
|
Senin, Maret 11, 2013
Sialan!
Seolah ditampar oleh kenyataan, gue tercambuk untuk menuliskan ini. Mungkin ini bukan sesuatu yang baru buat lo, tapi tetap saja hal ini membuat gue kaget dan terbangun. Sebenarnya gue lagi nggak ada mood sama sekali buat nulis. Tapi gue ngerasa harus nulis. Halah, bingung gue. Udahlah, bodo amat kalo tulisannya berantakan, yang penting gue udah nulis.
Sebenernya kata-kata 'Lapas' udah nggak terlalu asing di telinga gue. Dulu, jaman SMA sempet nyicipin ngedekem di Polres 3 hari, walaupun untungnya nggak sampe masuk lapas. Dan setelah itu hidup gue mulai teratur, nggak pernah macem-macem lagi. Yah, nggak bisa dibilang lurus-lurus amat sih. Tapi yang jelas gue udah menjauh dari masalah. Stay away from trouble, kalo kata orang ambon mah.
Gue bingung mau mulai dari mana. Mungkin karena nggak mungkin gue ceritain semuanya di sini, gue bakal nyeritain garis besarnya aja. Dulu, gue selalu berteman sama yang namanya masalah, sejak SMP hingga SMA. Gue males nyeritain kenapa-kenapanya, yang jelas gue dulu selalu pindah sekolah gara-gara masalah-masalah tersebut. SMP gue pindah 3 kali, dan SMA 2 kali. Setelah 'masalah' yang terakhir, gue di-DO dari SMA gue, dan harus pindah ke sebuah kota kecil di Jawa Timur bernama 'Trenggalek'. Kota yang kecil banget, sampe-sampe nggak ada satu mal pun di situ. Jadi, dulu itu gue lumayan deket sama Kepsek di sekolah. Pas keputusan 'Drop Out' keluar, beliau nolongin gue. Kebetulan, beliau punya temen kuliah yang jadi Kepsek SMA juga, ya di Trenggalek itu. Jadi, walaupun di 'DO', gue direkomendasiin di SMA-nya temen Kepsek gue itu, jadi riwayat 'Drop Out'nya nggak ketauan, alias 'bersih'.
Nah, di kota kecil itu gue ketemu seseorang yang sampe sekarang jadi temen seperjuangan gue, namanya Riza. Namanya aja kota kecil (yang bensin seliter aja bisa buat seminggu), yang namanya hiburan itu susah banget dicarinya. Berhubung gue suka ngegame, walaupun nggak freak banget sih, jadilah gue tiap hari nongkrong di warnet game online. Di warnet tersebut gue jadi kenal banyak orang, salah satunya ya si Riza ini. Gue nggak terlalu akrab sama dia, cuma kenal-kenal ala-game biasa. Pas lulus SMA, ternyata kita keterima kuliah di kota yang sama, bedanya dia kuliah di Telkom, sedangkan gue di Unpad. Jadi, bisa dibilang dia itu temen kampung yang seperantauan, alias temen seperjuangan.
Selama lebih dari 3 tahun gue kuliah di sini, hampir setiap weekend gue selalu maen bareng dia. Dia itu gamers sejati, hampir semua game yang gue mainin itu dari dia. Mulai dari FarCry, Ghost Recon, Call of Duty, Hitman, Crysis, Prototype, Slender, Assasins Creed, dll itu semua gue maenin di kosan dia. Shit, gue masih bingung mulainya gimana. Oke, gue barusan abis minum. Padahal ginjal gue baru aja sembuh. Shit, okay, iya gue tau ini nggak penting.
Jadi, dulu kira-kira awal semester 3 gue mulai ngenalin weed ke si riza. Awalnya dia nggak terlalu tertarik, mau sih, tapi biasa-biasa aja. Lama kelamaan, kita mulai rutin ngerakab bareng. Niat gue sih buat have fun aja. Sama sekali nggak kepikiran resikonya. Masa-masa paling rutin ngerakab itu pas semester 4-5-6. Kita sampe ngefans ama film-film yang ada adegan nge'baks'nya atau orang abis ngegele-nya, kayak film 'Dude, where's my car', dll. Ampe download video-video random di Youtube soal 'stone' atau 'How to roll a joint', dll. Dateng ke acaranya LGN, diskusi tentang ganja, dll. Pokoknya, itu masa-masa hura-hura banget.
Semester 6 akhir, gue udah mulai berhenti make. Entahlah, mungkin karena gue udah mulai nggak menikmati lagi. Atau mungkin emang selama ini gue memang nggak 'menikmati'? Mungkin hanya untuk sekedar euforia tentang ke-mabuk-an aja? Entahlah, sialan gue bingung. Yang jelas, di akhir semester 6 gue mulai kecanduan alkohol. Dari situ gue stop nge-weed sama sekali. Dan sialnya, si Riza malah keterusan. Memang sih, secara pemakaian, weed itu aman. Nggak ada ketergantungan, nggak ada efek samping yang buruk ke badan, pokoknya mabuy secara sehat lah. Justru, kecenderungan gue akan alkohol itu yang berbahaya. Dan gue kena imbasnya 2 minggu yang lalu. Ginjal kanan gue bengkak. Untungnya sekarang udah sembuh, alias nggak kenapa-kenapa.
Sialan, balik ke benang merah! Beberapa hari yang lalu gue dapet kabar dari Pay, kalo si Riza ketangkep. Gimana kabarnya dia nggak tau, soalnya hpnya nggak aktif. Gue langsung shock. I mean, sialan dude! temen seperjuangan gue ketangkep! Dia bukan kriminil. Dia orang baik-baik. Mahasiswa yang lagi nyusun skripsi, dan bentar lagi lulus. Ketangkep cuma karena nge'weed'. Sialan! Bahkan, di saat gue nulis postingan ini, di timeline twitter gue ada yang nulis twit yang menyiratkan kalo dia lagi ngerakab, shit! Well, gue cuma lagi kesel sendiri. Nggak ada yang bisa disalahin. Gue cuma lagi marah dan kacau.
Kemaren dia masih ditahan di Polda. Dan sekarang udah dipindah ke rutan Kebon Waru. Besok gue harus jenguk ke sana, bawain dia beberapa barang. Tadi gue udah packing. Ini list barang yang besok bakal gue bawa buat dia:
- Flashdisk (diisi lagu-lagu favorit dia)
- Pulpen sama buku tulis
- 4 kaos, sama sarung
- Catur
- Rubik 4x4
- Novel 'Dunia Sophie'
- Kopi 2 pack
- Garpit 2 bungkus
- Abon sapi
- Mie instan 8 biji
Well, gue tau yang gue bawain itu cuma dikit, dan bakalan langsung ludes dalam 2-3 hari. Tapi keuangan gue emang lagi seret. Semoga aja itu cukup. Minggu depan gue bakal besuk ke sana lagi. Damn! gue masih nggak habis pikir, jujur aja ampe detik ini gue masih shock. Dan jujur aja, sampe detik ini gue juga nggak tau apa tujuan gue nulis ini.
Label: Shout Out
|
|
|
Minggu, Maret 03, 2013
Explosions in The Sky
In next 20 years, i wish i could be a nice daddy, just like him:
Explosions In The Sky - Your Hand in Mine (cover)
Label: Eargasm
|
|
|
Sabtu, Maret 02, 2013
Explosions In The Sky
If you done with the latest video (below this post), then you should watch this one too:
Explosions In The Sky - The Birth and Death of the Day
Label: Eargasm
|
|
|
Explosions In The Sky
Hanya tiba-tiba saja aku terdorong untuk menulis tentang ini. Aku jenis orang yang sangat peka terhadap musik. Mungkin, karena kepribadianku yang kaku, selera musikku pun begitu. Terkadang telingaku tidak dapat mentolerir musik-musik yang tidak kusukai, lebih-lebih apabila musik tersebut diputar kencang-kencang di tempat umum. Yep, mungkin aku lebih cocok tinggal di sebuah goa, di mana aku dapat hidup dengan kekeras-kepalaanku akan selera musik tersebut.
Tidak hanya itu, di dalam diriku sendiri terdapat pertentangan-pertentangan kecil lagi yang sering terjadi. Jadi, bukan hanya di luar saja, namun di dalam juga. Aku adalah tipe orang yang tidak bisa melewatkan sehari tanpa mendengarkan musik. Bahkan, sewaktu KKNpun aku menyempatkan diri untuk setidaknya mendengarkan lagu-lagu favoritku selama beberapa menit saat menjelang tidur, tidak peduli selelah apapun aku saat itu. Begitu pula di keseharianku. Sebelum tidur, aku selalu memilih satu album lagu untuk kudengarkan sampai aku jatuh tertidur. Begitulah, jadi di saat aku terbangun di siang harinya, lagu-lagu tersebut masih mengalun. Seperti itu di setiap harinya.
Namun, ada satu hal yang baru kusadari. Ini akan menjelaskan tentang pertentangan kecil di dalam diriku seperti yang kutuliskan di atas tadi. Begini. Aku menyukai, atau mungkin lebih tepatnya menggilai musik Post-rock. Dari kesemua band Post-rock yang ada, terdapat satu band yang paling kugemari. Namanya, Explosions In The Sky. Tentu saja, aku tidak menggemari band-nya, namun lagu-lagunya. Aku bahkan tidak peduli dan tidak berusaha mencari tahu siapa orang-orang ini dan dari manakah asalnya. Yang kupedulikan hanya alunan lagunya. Dan, tentu saja lagu-lagu dari band Post-rock lainnya juga great. Namun, aku masih belum bisa menemukan alasan mengapa aku terlalu menyukai lagu-lagu dari EITS ini. Aku memiliki satu hipotesis tentang ini, entah benar atau salah:
Akan kugambarkan sejenak tentang ritual mendengarkan musikku di malam hari. Apabila sudah merasa cukup lelah, aku segera mengistirahatkan diri di kamar, membuka iTunes, dan mengetikkan nama band yang ingin kudengar di kolom 'search', mengklik 'play', merebahkan diri di kasur, membaca buku sambil mendengarkan musik tersebut, lalu tertidur. Begitu di setiap harinya. Belakangan ini, band yang sering kuputar sebagai lagu pendendang tidur di antaranya adalah: Yndi Halda, God Is An Astronaut, Oasis, Hammock, The Jezabels, Foster The People, The Flaming Lips, Sigur Ros, Aereogramme, dan tentu saja Explosions In The Sky. Semua band tersebut kurasa enak untuk didengarkan dengan serius, ataupun hanya menjadi soundtrack saja sambil berkegiatan ataupun saat sedang akan tidur. Kamu menangkap maksudku, kan? Nah, yang kusadari belakangan adalah, bahwa aku tidak bisa menerapkan hal tersebut pada lagu-lagu dari EITS. Jika aku memutarnya, dan lalu menjadikannya backsound sembari aku membaca buku, maka musik EITS akan terasa mengganggu, dan menjadi aneh. Lain kasus, jika aku mendengarkan Hammock~yang notabene merupakan band Post-rock juga~sambil membaca buku, maka musiknya masih terdengar enak di telinga, walaupun dengan kesadaran yang samar-samar. Sementara, untuk menghadapi EITS, aku tidak bisa mendengarkannya sambil lalu, which mean is-aku harus fokus. Bila aku fokus mendengarkan setiap nada yang terlantun, maka tidak akan ada bunyi-bunyian lain yang kurasa bisa menandingi keindahannya. Tidak berlebihan, kok. Aku hanya menuliskan apa yang aku rasakan.
Jadi, mungkin itulah mengapa aku mendewakan EITS. Dan, kebetulan, saat menulis ini aku juga tengah mendengarkan lagu ini:
Explosions In The Sky - The Only Moment We Were Alone
(Seperti yang kukatakan di atas tadi, aku tidak bisa mendengarkan lagu-lagu dari EITS bila tidak fokus. Jadi, aku mengerjakan postingan ini sambil berganti-gantian dengan melihat Youtube. Bila sedang buffering, maka kulanjutkan menulis, lalu kembali lagi ke Youtube, dan kembali lagi ke blog, begitu seterusnya sampai videonya beres :D)
Label: Eargasm
|
|
|
Selasa, Februari 26, 2013
And Then You Come
Sinar matahari di sela dedaunan
Beranda yang penuh pernak-pernik
Dengan lenggokan anggun tanpa cela
Seiring daun-daun berguguran
Seiring sinar merah yang tenggelam
Hari berulang bergitu rupa
Kuteriakkanpun kau takkan nyata
Dengan lenggokan anggun tanpa cela
Label: Shout Out
|
|
|
Look Into The Air
Pengap,
kabut pekat ini menguasai
Setipis
udara segar menggeliat
Gerak
nadi pun terasa nyata
Semua
ini membuatku jengah
Tergantikankah?
Ooo, tidak pernah…
Mengerikan,
bagiku. Bagimu?
Ya, begitulah
rasanya tergelitik
Mari,
sejenak kuajak kau menapak semak
Inilah
duniaku. Ya, duniamu juga. Tidak, tapi bukan duniamu
Geraknya
itu terlihat mengalir, maka jangan kau hempas
Aku tak
pernah menangis, maka jangan kau buatku menangis
Aku
bukan pelaku, bukan pula pemain
Maka
biarkanlah aku mengamati
Demikian,
hanya itu yang selalu kau ucapkan
Ini
bukan engkau di masa lampau
Ledakan
di langit itu yang mengubahmu
Label: Shout Out
|
|
|
Senin, Februari 25, 2013
Warna
Jika jingga kau peruntukkan pada hijau, semburatlah. Begitu
pula biru dan hitam. Jadi, yang mereka pertunjukkan hanya merah dan hitam, biru
menjelang hijau, atau bahkan hitam bersama putih. Mereka gandrung pada citra.
Mereka peduli pada topeng. Bahkan tawa dan tangispun terkadang hanyalah warna.
Jadi, bila dipersoalkan esensi, mereka bungkam. Karena hanya kulit yang mereka
punya, lain tidak.
Terkadang aku menyebutnya ketergantungan atas nuansa.
Apabila pelangi bersinggasana, mereka cerah. Apabila mendung bergelanyut,
mereka bungkam, mereka muram. Terkadang aku muak. Ke mana perginya eksploitasi
esensi atas isi? Apakah kecantikan warna mempesonamu lebih daripada rasa?
Seringkali aku menyalahkan mata, indera yang hanya peka pada warna. Dan aku
memuja lidah di dalam dadaku yang peka terhadap rasa. Lebih-lebih, aku memuja
sekumpulan cacing di kepalaku yang selalu menyingkirkan dusta yang ada dicipta,
memilahnya, dan melahap arti. Ya, cacing-cacingku selalu lapar akan arti. Dan
mereka tidak pernah akan mati. Aku tidak pernah membiarkannya. Berkala kuasup
mereka dengan cairan-cairan ajaib yang akan membuat mereka selalu terjaga.
Semua hal memiliki ukuran serta takaran, selayaknya pelindung susu ibumu.
Apabila kuasup cacing-cacingku secara berlebihan, mereka akan menyerta liar.
Namun, bila kurang, mereka tidak akan peka. Begitulah.
Namun jujur, terkadang akupun terhanyut dalam permainan
warna. Lagi-lagi, terjadinya karena mendung atau pelangi. Aku sering terbawa.
Sampai kapankah kau masih akan terhanyut dalam permainan
warna?
Label: Daydream
|
|
|
The Most of This Life
I would love to believe, that when I die, I will live again.
That some thinking, feeling, remembering part of me, will continue. But much as
I want to believe that, and despite the ancient and worldwide cultural
traditions that assert an afterlife. I know of nothing to suggest that it is
more than wishful thinking. The world is so exquisite with so much love and
moral depth, that there’s no reason to deceive ourself with pretty stories for
which there’s little good evidence. Far better it seems to me, in our
vulnerability is to look death in the eye. And to be grateful everyday for the
brief but magnificent opportunity that life provides. -Carl Sagan
Label: Daydream
|
|
|
Rabu, Februari 20, 2013
KKN
Okay, here's the whole thing about my days in KKN. As i wrote on the older post, i've broke up with my GF just two days before this program. Jadi, gue berangkat dengan mood yang setengah-setengah. Packing pun buru-buru, cuma bawa barang-barang yang seadanya (gue ampe lupa bawa jas almamater -_-). Yang gue inget, gue cuma perlu bawa beberapa pakaian, charger, dua botol Vodka, 5 buku bacaan, headset, dan sepatu, that's it. Gue pun nggak yakin anak-anak bakal respek sama gue, soalnya, pas pembekalan aja gue udah dimaki abis-abisan sama dosen LPPM soal etika (gue dateng ke pembekalan pake celana bolong). Well, gue nggak bakal mempermasalahin soal itu di sini. Itu cuma soal perbedaan cara pandang.
Eng-ing-eng, ternyata gue dapet temen-temen yang nice banget. Nggak nyangka gue. Yang paling pertama deket sama gue udah pasti anak-anak cowoknya dulu. Berikutnya, baru giliran anak-anak cewek. Di hari-hari akhir KKN, gue baru tahu dari beberapa cewek soal prasangka mereka terhadap gue di awal perkenalan gue sama mereka. Tadinya, mereka nganggep gue itu tukang ngobat, preman, dll. Geez, hahahaha! Padahal gue cuma make tindik, dan celana bolong. I mean, ke mana aja mbak selama ini? Baru liat yang beginian, emang? Coba, sekali-kali mbak-mbak sekalian berkunjung ke depan kantin FISIP, tempat anak-anak Antrop pada nongkrong. Just don't get shock :)
Hari pertama gue membakar hijau bareng seorang teman. Dan hari-hari berikutnya, hal tersebut menjadi rutin, seiring bertambahnya anggota. Hahaha!
Gue juga sempet ngerasain ngajar murid-murid SD di kelas, ngebantuin mereka ngerjain PR tiap sore, maen bareng mereka, dan hal-hal menyenangkan lainnya.
Oh, sekilas info dulu. Ini gue ngetik postingan sambil buka-buka akun Last.fm. Lo punya? Nggak, ya? Bikin dong :)
Lanjut. Untuk berikutnya, gue copy paste aja posting-posting gue sebelumnya:
KKN: day 3
Masuk hari ketiga, masih gabut kayak hari-hari sebelumnya sih. Pagi, bangun tidur jam 9, langsung sarapan, terus mandi. Nongkrong di teras bareng si gudang lagu. Terus gue, roberto, ngiringin roy bikin lagu spontan! Lagunya bergenre ya lo taulah, apa lagi kalo bukan Post-rock! :)
Lagu pertama judulnya 'Teras Mendung', hahaha! Itu terinspirasi dari tempat nongkrong kita yang selalu di teras, dan selalu mendung.
Lagu kedua judulnya 'Resapilah Sapi', hahaha! Kalo ini agak panjang rinciannya. Jadi, itu lagu buat dua bibit unggul yang ada di kelompok KKN gue, lo tau lah maksudnya. Nah, pas di hari pertama Pak Kades sempet nerangin tentang komoditi ternak sapi di desa ini, yaitu sapi hasil kawin silang antara sapi jawa dan sapi australia (which mean is bibit unggul). Dari situlah kita punya codename 'sapi' buat cewek-cewek cakep itu :)
Lagu ketiga judulnya 'Capung dan Cakung'. Kalo yang ini terpinspirasi dari 420, ya lo pasti tau lah ya, artinya apa.
Siangnya, karena bosen, gue dan beberapa temen cowok mutusin buat mancing di sungai. Alat pancingnya minjem ke bapak yang punya rumah. Awalnya nemu empang buatan yang digunain buat pancuran mandi orang kampung. Di situ gue berhasil dapet kepiting kecil (yeay!), yang langsung gue namain 'sapi', hahaha! Today is full of cows. Setelah gagal di empang, kita cabut lagi ke sungai. Tapi tetep, nggak ada hasil.
Malemnya, lagi-lagi cuma nongkrong di teras, gegitaran sampe ngantuk.
KKN: day 5
Hari ini bangun jam 9 pagi, seperti biasanya. Hujan turun seharian, dan gue nggak mandi. Sorenya, gue jogging bareng Roy, Arief, Stanley, sama Fristy. Sempet maen bola juga di lapangan desa bentaran, bareng Roy. Pulangnya, nongkrong di teras lagi, nyanyi-nyanyi. Anak cowoknya tinggal gue sama Roy doang, anak ceweknya ada Kara, Paskah, sama satu lagi gue lupa namanya. Anak-anak laen pergi ke desa sebelah, ngunjungin kelompok KKN laen. Pas lagi enak-enaknya gitar-gitaran bareng Roy, eh, ada kembang desa lewat naek sepeda gunung. Waks, ini sih bukan kembang desa. Mukanya aja indo (keturunan setengah bule), naek sepeda gunung lagi. Gue sama si Roy jadi penasaran sendiri, hahaha. Roy ampe berniat mau buang sampah ke depan rumah, biar bisa ngeliatin si kembang desa lebih jelas. Wakakaka :D
Malemnya, lagi-lagi cuma gitu doang, gitar-gitaran, sambil leyeh-leyeh di rumah. Gue sempet maen sulap kartu di depan anak-anak cewek. Ups, bukan bermaksud nyekill ya. Masalahnya, anak-anak cowok udah pernah gue kasih semua sulap-sulap gue itu, bahkan mereka udah gue kasih tau triknya. Gitu. Tapi, pertunjukan sulap kali ini nggak terlalu berjalan mulus. Soalnya ada si paskah. Ntu bocah otaknya emang pinter. Setengah trik sulap gue dibongkar sama dia. Oke, gue boong. Semua! Semua trik gue dibongkar ama dia, ckck. Untungnya, anak-anak cewek yang laen nggak mudeng walopun si paskah udah ngebongkar trik gue, hahaha! Kemaren juga pernah sulap lidi si Roy dibongkar sama si paskah, pas lagi orientasi desa ke Gapoktan. Moral cerita: jangan pernah nunjukin sulap di depan cewek yang namanya paskah!
KKN: day 7
Kemaren nggak sempet mosting apa-apa, agak lumayan sibuk sih. Jadi, senin ampe kamis itu kan cewek-cewek udah masakin makanan yang enak-enak buat kita 3 X 24jam. Nah, weekend itu giliran kita para cowok masak.
Kemaren siang, anak-anak desa Cidadap maen ke rumah kita, ditantangin maen bola. Wah, otomatis kita kalah jumlah dong. Apalagi Midun ama Stanley nggak ikutan. Jadi, yang maen cuma gue, Arthur, Roy, Arief, sama Roberto. Sementara di kelompok cidadap cowoknya ada 10. Akhirnya kita ngerekrut beberapa bocah kecil 'akamsi' buat tambahan pemain. Pokoknya akhirnya kita menang 5 - 3.
Magribnya kita siap-siap buat masak. Arief, Arthur, Roy, sama Midun nyiapin segala tetek-bengek buat bakar jagung. Sementara gue sama Berto masak. Wait, masak? Hahaha! Padahal gue sama Berto cuma punya pengalaman masak seadanya. Si Roy ama Arthur turun tangan buat ngebantuin. Akhirnya kita masak aman aja, tapi tetep bereksperimen, fufufu... Kita masak sayur sup sama goreng bandeng presto dilapis sambel terasi, judulnya 'Spicy Bandeng ala Balingbing'. Untungnya anak-anak pada doyan makannya. Ikan sama sayurnya langsung ludes :)
Hari ini, gue sama anak-anak cabut ke kota subang. Dibilang kota juga bukan kota sih. Sebagian anak pergi ke gereja, sisanya pergi ke pasar rakyat. Baliknya mampir ke kfc, terus nemenin anak-anak cewek belanja di yogya. Pas lagi bayar di kasir, kordes nelpon gue, katanya dosen LPPM dateng ke rumah! Waks, kita nggak ngira sama sekali. Soalnya biasanya LPPM datengnya sekitar pertengahan sampe akhir bulan. Kita langsung kalang-kabut nelpon angkot jemputan. Nyampe di rumah, ternyata si orang LPPM itu udah pulang. Untungnya Arief si kordes udah ngejelasin dengan baik. Yah, mudah-mudahan aja nggak dapet nilai B.
KKN: hari-hari terakhir
Udah berhari-hari nggak mosting apa-apa. But, i'll tell you what has happened lately,
-Gue, berto, roy, sama arthur pergi mancing. Si berto kebetulan nemu rumah kosong yang di belakangnya ada kebun pribadi. Di situ ada kayak semacem taman kecil dan kolam ikan. Kita dapet sekitar 9 ikan mas ukuran sedang, digoreng, trus dijadiin cemilan sore.
-Gue, berto, roy, paskah, garliana, sama heny cabut ke lembang pas midnight. Beli jagung bakar, ngobrol-ngobrol, sambil menggigil kedinginan. But i got so much fun that night :)
-First time ngajar di SD. Gue sempet kebagian ngajar IPS kelas 5 sama PKn kelas 4.
-Gue, berto, roy, kara, paskah, sama pita cabut ke pantai Patimban di pantura. Nongkrong di dermaga ampe malem. Pulangnya maen Truth or Dare di mobil.
-Dan yang paling menyenangkan adalah, agenda cabut ke sawah dan nongkrong di saung tiap sore pukul 4:20 :D
-Akhirnya kita semua pergi ke Ciater. Pake mobil Kara, Lana, plus nyewa Luxio. Di ciater, gue dan 4 Partner in Crime gue ngadain The Last Supper. Masuk ke kolam anak-anak (which is sepi kalo malem), dan minum Wine. Well, not the real Wine, but it's still delicious :)
-Besoknya ke rumah Tantenya Henni, ngeliwet, plus mancing. Pulangnya bawa ikan buat dibakar di rumah.
Gue nggak bisa nyeritain semuanya di sini. Ada beberapa detail yang gue udah lupa. Ntar kalo udah inget, pasti gue edit lagi.
Label: Daily
|
|
|
Sabtu, Januari 12, 2013
Jadi anggota legistaltif: Bisnis
Sebentar lagi sebagian dari temen-temen gue udah ada yang bakal angkat kaki dari kampus, alias lulus. Beberapa pengen jadi PNS, kerja kantoran, peneliti, wiraswasta, dll. Tapi, sebelum itu, gue bakal kasih tau kalo ada prospek bisnis yang sangat menguntungkan. Namanya,
'Prospek Bisnis Menjadi Anggota DPR' (Tararararara...!)
Modal Dasar : 2.000.000.000 (Dua Milyar Perak) (Buat dana kampanye, doang) (enteeng...)
Kebutuhan Pembiayaan :
-Spanduk
-Perengkuhan Komunitas
-Komunikasi Sosial Media
-Penerbitan Buku Untuk Pencitraan
-Pembentukan jaringan pendukung
Serapan atas modal operasional : 1.850.000.000,
Masih ada sisa 150.000.000 : Buat beli pakaian buat pelantikan.
Pengembalian Modal :
Gaji Pokok : Rp. 45 juta/sebulan, dalam 5 tahun : 2,7 Milyar
Dari gaji pokok udah mendapatkan keuntungan : 700 juta.
Studi Banding : 150 juta/tahun = 750 juta.
Pendapatan suap per-regulasi Undang-Undang: 500 juta (asumsi pendapatan yang diperoleh Agus Condro)
Pendapatan suap dari persetujuan proyek: 35 Milyar (asumsi yang didapat dari Angelina Sondakh).
Bonanza bisa didapat pada tiga titik :
1. Harga suap regulasi Undang-Undang
2. Harga suap persetujuan proyek
3. Harga suap pencairan dana anggaran.
Bisnis DPR sekarang lebih menguntungkan ketimbang mengembangkan hektaran tambak udang atau mengembangkan bisnis lele sangkuriang. Banyak fresh graduate guy yang bakal semangat kalo ngerti bisnis ini dengan baik.
Modal dasar di bisnis ini :
1. Nggak punya hati nurani
2. Bermoral bejad
3. Berani malu didepan publik
4. Munafik
5. Berani bicara sembarangan dan senang memamerkan kebodohan.
Resiko yang ditanggungpun amat kecil, untuk kasus Angelina Sondakh, anda hanya menginap di hotel Prodeo selama 4,5 tahun dipotong masa tahanan, dan dipotong biaya suap untuk remisi masa tahanan.
Indahnya hidup di negara para Maling.
Label: Shout Out
|
|
|
Sabtu, Desember 29, 2012
Menjelang Tahun Baru
Menjelang tahun baru, and i'm still here, sitting in front of my computer, wondering about some nice thing that will never going to happen. Actually, here's what happened:
- my girlfriend went to Bali with her family.
- my housemates are went back to home. Ups sorry, there's still one of them, Joshua, he's playing game in his room right now,
so, i'm not totally alone (i feel little happy, little...), and i still haven't decided what i would do in this New Year's Eve. Maybe i'll just crapping with a beer in my hand, and then go to sleep. No, i don't mean that.
But, seriously? No having fun for 31th december? I wont let that happen, for sure. Gue bakal bikin malam tahun baru kali ini menyenangkan. What does that american says? Drive me crazy? Yea, some kind like that.
Gue nggak pernah percaya sama yang namanya pertanda buruk, but lately, i do believe that.
H-9
Si coki kerendem banjir di bypass Soekarno-Hatta. Dafuq?! Jadi, ceritanya sore itu gue baru balik dari kosan si riza di Buah Batu, baru 10 menit jalan, tau-taunya ujan. Gue bawa santai aja, toh ujan sore-sore itu syahdu banget *am i saying that?*. Nyampe di lampu merah Carrefour jalanan mulai macet, gue kejebak arus. Ngelewatin daerah Lotte Mart jalanan mulai tergenang air, gue masih nggak curiga apa-apa. Menjelang lampu merah Gede Bage air udah se-betis orang dewasa. (no, don't ask that stupid question.) Nyampe pom bensin deket lampu merah air udah selutut. Gue panik. Serius, panik. Air masuk ke mobil (si coki itu lumayan ceper, jadi, di dalem mobil air masuk setinggi pinggang gue). Nggak, gue panik bukan karena sempak gue basah, bukan. Iya, gue tau, kata-kata sempak itu terlalu kasar. But, please, can i...? Yang bikin gue panik itu karena coki udah mulai batuk-batuk, mesinnya tiba-tiba brebet, dan tekanan di pedal gas udah mulai berkurang. Beberapa kendaraan mulai mogok. Jalanan tambah macet. Gue sih pengennya buru-buru cabut dari kolam dadakan itu, tapi macetnya itu loh, nggak gerak!
Well, setelah kejebak macet di Soetta selama 4 jam, akhirnya gue berhasil pulang ke kontrakan, i made it mom! Besoknya, semua busi mati, empat-empatnya. Terpaksa manggil montir. Malemnya, terpaksa cuma bisa makan indomie.
H-4
Gue pikir si coki udah sehat, makanya gue ajak jalan-jalan. Nyampe di depan Taman Pramuka yang ke arah Gedung Sate, jebrooott! si coki mampus, diem aja nggak gerak. Bah, gue kalang-kabut nyari bengkel. Dua montir yang dateng, langsung nyerah begitu ngeliat dalemannya coki, maksudnya mesin. Gue sms si riza, minta tolong cariin montir. Montir yang dia bawa pun angkat tangan. Mampus!
Akhirnya, gue nyari bengkel yang kira-kira mumpuni *tsaaaaahhh...* buat ngobatin coki. Setelah muter sana sini, akhirnya nemu bengkel gede namanya Shop and Drive. Beuh, gue langsung demen ama ini bengkel. Bengkelnya bagus, pelayanannya juga bagus, bosnya langsung mengutus dua montir untuk dateng ke TKP, dan ngejanjiin kalo misalnya coki nggak bisa diobatin di tempat, ntar bakal diderek sama pihak bengkel. Ini baru yang namanya BENGKEL!
Ternyata penyakit coki lumayan parah. Fuel-pumpnya rusak, (kalo orang bengkel bilangnya 'rotak'), akhirnya si coki terpaksa diderek ke bengkel. Gue nginep di kosannya riza. Dan besoknya si coki udah sehat. Syukurlah... *am i saying that, too?*
H-3
Nah, si Josua ngajakin gue buat maen ke rumahnya di Depok buat tahun baruan ntar sama anak-anak. Soalnya bokap-nyokapnya mau pada cabut ke Medan. Interested, but, i'm not so sure coki will make that. Di dalam kota aja mogok, gimana mau ke luar kota?! How bout you coki? Can you do that?
Label: Daily
|
|
|
Minggu, Desember 16, 2012
Secangkir Hujan
Ini prosa pesanan gue yang dibikinin seorang ratu prosa, barusan gue copas dari blognya. Kata-katanya ciamik! Judulnya juga gimanaaa gitu. Seneng gue liatnya. Rencananya sih bakal dijadiin lirik lagu, tapi masih males nguliknya. Nada-nada dasarnya sih udah ada, malah ada yang bilang nadanya mirip-mirip kayak musiknya Cranberries (Duh, gak berniat ngejiplak loh ya, ciyus. Malah gue rasa gak mirip kok ama Cranberries). Pe-ernya sekarang tinggal ngepasin itu prosa sama lagunya.
Label: Daydream
|
|
|
Is it about politic or what?
Pernah suatu saat Gatot Mangkoerpradja bertanya pada Bung Karno saat mereka berdua berjemur di halaman penjara Sukamiskin, "Menurut bung, kesusahan kita saat ini adalah bagian dari konsekuensi politik?"
"Gatot..." kata Bung Karno dengan mata menyala-nyala dan badannya direbahkan pada rumput halus halaman penjara. "Politik itu kesadaran, hal paling mendasar, hal paling groondslag dari politik adalah kesadaran... kesadaran untuk apa?... setiap orang punya kesadarannya masing-masing, kesadaran politik bagiku adalah membebaskan bangsa ini dan mendapatkannya kembali kehormatan mereka sebagai manusia yang bermartabat, itulah kesadaranku."
Pemain politik itu harus punya kesadaran, untuk apa seseorang masuk partai, masuk dalam perlombaan politik, dan melakukan agenda-agenda kerja jika hanya untuk kepentingan pribadinya? Seperti yang terjadi pada Angelina Sondakh, dalam suatu wawancara dia berkata "Saya menyesal masuk politik, sekarang saya hanya akan merawat anak saya dan orang tua saya". Di sini sudah terlihat bahwa dia tidak memiliki kesadaran bahwa politik adalah tentang mengubah bangsanya, bukan mengubah nasib pribadi. Berapa kekayaan angie sebelum masuk demokrat? Berapa kekayaan angie setelah keluar dari demokrat?
Kesadaran angie adalah kesadaran bahwa politik adalah jalan untuk memperkaya dan mengakumulasi modal pribadi, moralitasnya adalah moralitas tak tau malu, seperti membagi-bagi uang di toilet, tertawa soal kode apel malang dan apel washington, lalu setelah ditangkap dia menangis. Angie tidak memiliki kesadaran politik bahwa politik adalah tentang mengubah nasib bangsa.
Berbeda misalnya dengan Tri Mumpuni, dia melihat bahwa negara belum mampu meng-cover jaringan listrik ke seluruh wilayah di Indonesia, ia masuk ke desa-desa terpencil ia pelajari bahwa "air bisa dijadikan penggerak energi". Tri Mumpuni berhasil membawa ruang kesulitan menjadi ruang kemudahan bagi rakyat banyak, berapa ribu anak bangsa bisa belajar di ruang terang-benderang berkat listrik, berkat kerja kerasnya. Di sini Tri Mumpuni memiliki kesadaran yang luas untuk bangsanya.
Sebuah bangsa adalah abstraksi, sebuah bangsa adalah fragmen-fregmen kesedihan yang memiliki kekejamannya, dan punya rasa kelam di masa lalu. Tapi sebuah bangsa adalah fragmen kegembiraan, di mana anak-anak bangsanya memiliki tujuan. Politik adalah medium untuk agar manusia Indonesia yang dewasa bisa menyelenggarakan 'Rumah Kita' ini sebagai tempat paling nyaman untuk anak-anak di masa depan.
Berpolitiklah dengan kesadaran bahwa bangsamu bisa lebih baik untuk masa depan.
Label: Shout Out
|
|
|
Sabtu, Desember 15, 2012
Post-rock
My last post was about Psychedelic, i know. But, did you know (all of you) that Post-rock is a very-very-very-very-very-very fuckin' GREAT music? Did i'm addicted? Na, i'm just sayyin'. But wait, ya, i'm addicted... And, i wanna hear you saying: "I love Post-rock too..."
Label: Daydream
|
|
|
Senin, Desember 10, 2012
Apa yang sedang kamu pikirkan?
Entah apa yang sedang kamu pikirkan sekarang. Di antara kalian mungkin ada yang sedang dimabuk cinta, ada yang sedang cemburu berat, ada yang sedang gandrung bermain game, ada yang sibuk dengan beberapa objek gambar, ada yang berkujur peluh setelah bermain futsal, ada yang tengah kecewa karena pameran lukisannya tidak menarik minat pengunjung, atau ada juga yang tengah dirundung kesedihan gara-gara persoalan yang berat. Aku sendiri tak sedang berpikir apa-apa, entahlah. Tapi yang jelas saat ini, saat postingan ini ditulis, aku tengah menikmati video yang satu ini:
Silahkan nikmati lagunya, dan pejamkan mata. Sekali lagi, nikmati! Dan, akupun akan bertanya kembali, sekarang, apa yang sedang kamu pikirkan?
Label: Daydream
|
|
|
Selasa, November 06, 2012
Dieng
Berhenti makan di daerah mana tau gue lupa, yang jelas puanass banget.
8 dari 10 orang memilih untuk membeli es krim.
Pintu keluar Telaga Warna, Dieng
Gambar-gambar berikutnya masih menunggu untuk diupload. Di balik penelitian serta tugas yang susah, ternyata gue masih dapet imbalan yang lebih dari cukup. Buat gue ini adalah penelitian yang paling asyik, tapi sayangnya ini sekaligus jadi penelitian yang terakhir, karena berikutnya udah nggak bakal ada penelitian lagi dari kampus. Maklum, udah waktunya lulus (harusnya sih...) :D
Label: Galeri, Travelogue
|
|
|
Senin, November 05, 2012
Silver Queen
"Hey, you... what you gonna do when the sky is gonna rain on you,
Are you gonna wait till the rain washes you out..."
Kece banget ini jingle!
Label: Galeri
|
|
|
Sabtu, Oktober 27, 2012
Gallery
Hadiah buat orang tua yang lagi naek Haji. Semoga mabrur, ya!
Gue emang paling buta soal beginian.
Mana gue tau di sana ngapain aja., tinggalnya juga di mana?
Abisnya tiap ada berita tentang haji di TV, isinya yang kaga enak mulu.
Yah, seenggaknya bokap gue baek2 aja di sana. Take care, dad!

Iseng bikin sketsa. Tapi belum kelar...
Nemu foto ini di gudang pas liburan semester kemaren. Lucu ya gue? Hahaha...
Ghaza (adek gue yang pertama). 'Kerja bakti membersihkan kolam ikan'
Ihsan (adek gue yang kedua). 'Kerja bakti membersihkan kolam ikan'
Amel (adek gue yang bungsu). 'Memasak di dapur'
Lagi silaturahmi di rumah sodara, eh, disuguhin minuman yang merknya aneh. 'Glek!'

Ada yang pernah makan sereal pake susu Strawberry? Weird. I know...
Apa lagi yang lebih enak selain Vodka dimix sama sirup Lemon di saat bokek?

Amunisi selama survey Studi Lapangan di Dieng
Firman. Sarapan pagi di sebuah pasar di Wonosobo. 'Kayak mas-mas lokal yang lagi dagang sayur, hahaha!'
Mural di tembok kota Wonosobo. Cute!
'Tidak boleh merokok di dalam ruangan'
Nemu tempelan ini di pintu kantor Kecamatan Batur, Dieng
Lagi bakar-bakaran sate di teras kontrakan. Untungnya kebagian,
soalnya adlan udah lemes gara-gara takut nggak kebagian daging dari orang-orang komplek, hahaha!
Label: Galeri
|
|
|
Senin, Oktober 22, 2012
Wall to wall
Gambar di atas itu adalah gambar yang tadi pagi saya kirim ke akun Twitter adlan, gara-gara dia molor mulu di kamar, dan paginya malah nggak ngampus. Sebenernya penghuni kontrakan ini memiliki hobi yang sama: ngegame, molor seharian, dan kentut. Udah, itu doang. Jadi ya, nggak heran kalo IPK rata-rata kita emang jeblok. Emang susah sih buat ngerubah kebiasaan buruk yang enak, jadi kebiasaan baik (yang sebenernya enak juga kalo kita tahu manfaatnya). Tapi, alhamdulillah perubahan itu perlahan-lahan mulai nampak. Begadang main game sih tetep, tapi kali ini diakali dengan nggak usah tidur sama sekali demi kuliah pagi. Hahahaha :D
Kebetulan saya tadi habis ngebuka-buka wall di facebook setelah hampir setahun saya non-aktifkan. Iseng aja ngebuka-buka wall zaman baheula dari beberapa temen, isinya gini:
"Tuhan, kalo kamu memang bener adanya, bener berkuasa, maka bakarlah kasur sahabatku ini biar dia ngga males kuliah lagi, mungkin sekarang kau buatnya dia terlena dengan kehidupan dunia fana ini, tapi biarlah tuhan dia sedikit menderita menjalankan kuliah dengan susah payah, supaya tersenyum ibu-bapaknya, supaya tersenyum adik-adiknya, supaya tersenyum sahabat2nya, Tuhan, berikanlah kuasa-Mu, Hidayah-Mu, apapunlah namanya.. amin tuhan! (bagus kan doa gw genk?)"
"then you eat your shit after that you'll become MAYYIT... kuliah lo! kena matahari dikit kek.. udah berapa bulan tuh kagak mandi! Jangan sampe gw bakar tuh kasur lo biar lo ngga bisa tidur lagi... HAHAHAHAHHAHAHAHAHHA" (buset dah ther, galak banget)
"koplak malah bawa kancut bekas yang masih ada kerak2 tai nya.hahaha" (Eta pitnah!)
"refreshing apaan ?? yg lu kasi cowok goblok !!! lu kira gw homo ... sialan lu mek .. hahahah" (Hahaha, yah, kali aja lo doyan, mo...)
"hahaha lo jadian ga bilang bilang memek? tai tanggal 1 perjamuan lo bayarin awas anjing wuahahaha, masih laku kan sob?" (Alhamdulillah masih laku...)
"Lo smart geng" (Alhamdulillah)
"buuukkkkaan itu nyokap yg nonton gue sih dangdut ajalah ,,ngikutin elu ! hahaha yee syapa blng elu bego ! gag kog lu cerdas terii ,,briliant kek engkong einstein wkwk" (Alhamdulillah lagi)
"tgl 6 kmren buber breng ank2 sonic. dirumahnya dephy :)
kata randy 'qiqi tambah ganteng loh' hahahah :D" (Wuih, beneran nih gue dikatain ganteng? Nggak salah?)
"Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita.." (ngapain nyanyi 17 agustus di timeline guaaaa?)
Juli 11, 2010 jam 9:29 malam
"lo jd koor konsumsi ya geng?"
Juni 11, 2010 jam 1:08 malam
"wakakaka baru sadar gua geng doli,apaan dah doli?dorongan lincah?haha" (Hush, jorok ih...)
"nama bagus2 rizqy kok dipanggil begeng.. ckck." (buenerrr banget!)
"Ngejangkrik di jatinangor" (Sama jo!)
"beeeeh nasib sama gan. malem minggu ngebangke doang dikosan hahahaha"
"kalo gitu,rambur gimbalnya buat gw dah cok, gw mau dandan ala mbah sirup,.hahah" (Mbah Surip kalee)
"suwippp....
bok,,ane suke ma gaya lu skrng..
gimbal abis...."
"ee buset dah . .jd total gimbal smuwa gtuh ?ckck . .mkin gembel doonk -.- mauu liat qi . .
ntr gnti di pp lo yah .wkwk"
Okta Fitri Fauzi wrote on your timeline.
Mei 6, 2010 jam 7:30 malam
"hai tukang palak junior. apa kabar ? hehee hahaa, laptop nya ga ada cahaya nya, jadi gelap. ga keliatan apa." (Astaga, kapan gue pernah malakin orang sih? Nggak pernah kok. Eh, pernah nggak ya?)
"mas kiki.tempat markasnya netral n bodan prakoso alamatnya mana?" (wah, mabok ni orang)
Okta Fitri Fauzi wrote on your timeline.
"haha, kurang kerjaan amat gw ngelurusin tuh cabe. disalon banyak tuh penawaran bonding, dengan harga promo lagi. dicoba aja. hehe yailah, diem bilang2. (kan gw yg tanya yaa?)"
Robert 'trebor' Parhananta wrote on your timeline.
"mengandung semacam zat yg memungkinkan sseorang untuk melakukan seseuatu yg berada d luar pikiran . . ."
"hahahahaha
siap2 menanti ajal,
-________________-"
"semua yang lo omongin waktu dulu ternyata bener. gue baru tau busuk2nya. anjiang"
"oh emang pajaknya kan dinaikin am pemerintah jd 200% instruksi pak sby tuh.. haha tandanya harus tobat, banyak2 minum air tajin." (oh minuman, kok kamu semakin mahal aja sih?)
"bangke, gw demen lu botak geng, gw ketawain abis2an lu, sokor hahaha
jiaaah sapa yg bilang petting, netting dodol, petting ama sapa lu pagi2 bgini ? ama guling ? atau ama ya'ul ? wkwkwkwkwkwk"
Label: Daily
|
|
|